TEORI PEMROSESAN INFORMASI BERBANTUAN MEDIA
Teori pemrosesan informasi adalah teori
kognitif tentang belajar yang menjelaskan pemrosesan, penyimpanan, dan
pemanggilan kembali pengetahuan dari otak (Slavin, 2000). Teori ini menjelaskan
bagaimana seseorang memperoleh sejumlah informasi dan dapat diingat dalam waktu
yang cukup lama. Oleh karena itu perlu menerapkan suatu strategi belajar
tertentu yang dapat memudahkan semua informasi diproses di dalam otak melalui
beberapa indera.
Teori pembelajaran pemrosesan informasi adalah
bagian dari teori belajar sibernetik. Secara sederhana pengertian belajar
menurut teori belajar sibernetik adalah pengolahan informasi. Dalam teori ini,
seperti psikologi kognitif, bagi sibernetik mengkaji proses belajar
penting dari hasil belajar, namun yang lebih penting dari kajian proses
belajar itu sendiri adalah sistem informasi, sistem informasi inilah yang pada
akhirnya akan menentukan proses belajar.
Pemrosesan informasi itu sendiri secara
sederhana dapat diartikan suatu proses yang terjadi pada peserta didik untuk
mengolah informasi, memonitornya, dan menyusun strategi berkenaan dengan
informasi tersebut dengan inti pendekatannya lebih kepada proses memori dan
cara berpikir. Dalam teori pemrosesan informasi, terdapat beberapa model
mengajar yang akan mendorong pengembangan pengetahuan dalam diri siswa dalam
hal mengendalikan stimulus yaitu mengumpulkan dan mengorganisasikan data,
menyadari dan memecahkan masalah, mengembangkan konsep sehingga mampu
menggunakan lambang verbal dan non verbal dalam penyampaiannya.
Atkinson dan Shiffin dalam Levitin (2002:296)
menyatakan bahwa memori manusia terdiri dari tiga jenis, yaitu sensori memori (sensory
register) yang menerima informasi melalui indra penerima seperti mata,
telinga, hidung, mulut, dan atau tangan, setelah beberapa detik informasi
tersebut akan hilang atau diteruskan pada ingatan jangka pendek (short term
memoryatau working memory). Informasi tersebut
setelah 5 – 20 detik akan hilang atau tersimpan ke dalam ingatan jangka panjang
(long term memory).
Teori pemrosesan informasi berpijak pada tiga
asumsi sebagaimana dikemukakan Lusiana dalam Budiningsih (2005:82) bahwa: (a)
antara stimulus dan respon terdapat suatu seri pemrosesan informasi di mana
pada masing-masing tahapan dibutuhkan sejumlah waktu tertentu, (b) stimulus
yang diproses melalui tahapan tahapan tadi akan mengalami perubahan bentuk atau
isinya, dan (c) salah satu dari tahap memiliki keterbatasan kapasitas.
Proses pengolahan informasi dalam ingatan
manusia diolah dalam tahapan yang berurutan, dan tiap tahapan terjadi struktur
tertentu dalam sistem memori. Pencatat indra khususnya visual dan pendengaran,
menerima isyarat-isyarat yang luas sekali macamnya dari lingkungan. Beberapa
informasi disimpan sebentar (0,5 sampai 2,0 detik) saja di dalam pencatat
indera. Informasi yang telah dipilih untuk diolah lebih lanjut masuk kedalam
memori jangka pendek atau memori kerja.
Sedangkan informasi yang tidak diakomodir
untuk diolah lebih lanjut selanjutnya akan hilang dari sistem. Dalam memori
kerja atau jangka pendek informasi tersebut selanjutnya disandikan menjadi
wujud yang bermakna dan dikirim ke memori jangka panjang untuk disimpan secara
tetap. Proses penyandian informasi dan pengiriman ke memori jangka panjang
merupakan fase inti dari belajar.
Letivin (2002:322) menyatakan terdapat tiga
jenis informasi di dalam memori yang mudah untuk diingat kembali adalah
informasi yang disampaikan secara terus menerus, informasi tentang hal-hal yang
terbaru, dan informasi tentang kejadian-kejadian yang tidak biasa dialami.
Dengan demikian, pengulangan adalah yang terpenting dalam sistem memori
manusia. Dengan pengulangan akan memudahkan informasi yang berada di ingatan
jangka pendek masuk ke ingatan jangka panjang dan lebih mudah untuk memanggil
kembali informasi yang berada di ingatan jangka panjang muncul di ingatan
jangka pendek.
Implikasi dari teori pemrosesan informasi yang
memandang belajar adalah pengkodean informasi ke dalam memori manusia seperti
layaknya sebuah cara kerja komputer dan karena memori memiliki keterbatasan
kapasitas, pembelajaran harus dapat untuk menarik perhatian siswa dan
menyediakan aplikasi berulang dan praktik secara individual agar informasi yang
diberikan mudah dicerna dan dapat bertahan lama dalam memori siswa, dan
aplikasi komputer memiliki semuanya dengan kualitas yang sangat baik
Media pengantar mengacu pada sistem yang
dipakai untuk menyajikan informasi, misalnya media berbasiskan media cetakan
atau media berbasiskan komputer. Desain pesan mengacu pada bentuk yang
digunakan untuk menyajikan informasi, misalnya pemakaian animasi atau
teks audio. Kemampuan sensorik mengacu pada jalur pemrosesan informasi yang
dipakai untuk memproses informasi yang diperoleh, seperti proses penerimaan
informasi visual atau auditorial. Sebagai contoh, suatu paparan tentang
bagaimana sistem sesuatu alat bekerja dapat dipresentasikan melalui teks
tertulis dalam buku atau melalui teks di layar komputer (dua media yang
berbeda), dalam bentuk rangkaian kata-kata atau kombinasi kata-kata dan gambar
(dua desain pesan yang berbeda), atau dalam bentuk kata-kata tertulis atau
lisan (dua sensorik yang berbeda).
Beberapa teori yang melandasi perancangan
desain pesan multimedia instruksional ialah teori pengkodean ganda,
teori muatan kognitif, dan teori pemrosesan ganda. Menurut teori pengkodean
ganda manusia memiliki sistem memori kerja yang terpisah untuk informasi verbal
dan informasi visual, memori kerja terdiri atas memori kerja visual dan
memori kerja auditori. Teori muatan kognitif menyatakan bahwa setiap memori
kerja memiliki kapasitas yang terbatas. Sedangkan teori pemrosesan ganda
menyatakan bahwa penyampaian informasi lewat multimedia instruksional baru
bermakna jika informasi yang diterima diseleksi pada setiap penyimpanan, diorganisasikan
ke dalam representasi yang berhubungan, serta dikoneksikan dalam tiap
penyimpanan Temuan-temuan penelitian (Pranata, 2004) telah menguji kebenaran
teori pengkodean ganda (dual-coding theory): terdapat dua buah saluran
pemrosesan informasi yang independent yaitu pemrosesan informasi visual (atau
memori kerja visual) dan pemrosesan informasi verbal (atau memori kerja
verbal); kedua memori kerja tersebut memiliki kapasitas yang terbatas untuk
memroses informasi yang masuk. Hal terpenting yang dinyatakan oleh teori muatan
kognitif adalah sebuah gagasan bahwa kemampuan terbatas memori kerja, visual
maupun auditori, seharusnya menjadi pokok pikiran ketika seseorang hendak
mendesain sesuatu pesan multimedia.
Teori Kognitif
Model pemrosesan informasi ini didasari oleh teori
belajar kognitif (Piaget) dan berorientasi pada kemampuan peserta didik
memproses informasi yang dapat memperbaiki kemampuannya. Pemrosesan Informasi
merujuk pada cara mengumpu-lkan/menerima stimuli dari lingkungan,
mengorganisasi data, memecahkan masalah, menemukan konsep, dan menggunakan
simbol verbal dan visual. Ilmu kognisi (cognitive science) merupakan
kajian mengenai inteligensi manusia, program computer, dan teori abstrak dengan
penekanan pada perilaku cerdas, seperti perhitungan (Simon&Kaplan, 1989).
Teori pemrosesan informasi /kognitif dipelopori oleh
Robert Gagne (1985). Asumsinya adalah pembelajaran merupakan faktor yang sangat
penting dalam perkembangan. Pembelajaran merupakan keluaran pemrosesan
informasi yang berupa kecakapan manusia.
Selain itu memori jangka panjang manusia berisi
gambaran-gambaran dari berbagai macam pengenalan pola yang menghasilkan
beberapa teori, yaitu:
Teori Template
Teori Template mengusulkan bahwa pola-pola tidak
“diuraikan”semua. Templat adalah suatu kesatuan yang holistic atau tidak dapat
dianalisis yang kita bandingkan dengan pola lainnya dengan mengukur seberapa
banyak kedua pola dapat dicocokkan atau saling melengkapi. Kelemahan dari teori
template membuat teori tersebut kurang menjanjikan untuk dijadikan teori umum
pengenalan pola biasanya akan cepat hilang
Teori Ciri
Teori Ciri (Feature Theory) memung-kinkan untuk
menggambarkan sebuah pola dengan membuat bagian-bagiannya. Teori Ciri tepat
sekali untuk menggambarkan perceptual learning (pembelajaran percep-tual) dan
salah satu diskusi terbaik mengena
teori cirri terdapat Principle Of Preceptual
Learning and Development dari Gibson (1969). Teori Gibson menyebutkan bahwa
epembelajaran perceptual terjadi melalui penemuan ciri-ciri yang membedakan
satu pola dengan pola lainnya. Meskipun kebanyakan teoritikus pengenalan pola
menggunakan konsep ciri, namun sering kali untuk menemukan seperangkat ciri
yang baik merupakan tugas yang menantang Gibson (1969) mengajukan kriteria
berikut sebagai dasar dalam menyeleksi seperangkat ciri dari huruf besar,
yaitu:
1. Ciri haruslah merupakan cirri
yang paling penting sehingga terlihat berbeda.
2. Identitas dari cirri tersebut
harus tidak berubah-ubah ketika terjadi perubahan kecepatan keterangan, ukuran,
dan perspektif.
3. Ciri tersebut harus menghasilkan
pola yang unik untuk setiap huruf.
4. Jumlah ciri yang diajukan
haruslah sedikit.
Teori Struktural (structural theory) :
Suatu teori menentukan bagaimana ciri dari sebuah
pola bergabung dengan ciri dari pola tersebut dan menekankan pada hubu-ngan
antar ciri menurut Clowes (1969). Teori Struktural memperluas teori ciri-ciri
dengan mengkhususkan bagaimana ciri-ciri tersebut berhubungan. Sutherland
(1968) adalah salah seorang yang pertama-tama ber-pendapat bahwa jika kita
ingin memiliki kemampuan dalam pengenalan pola yang sangat mengesankan, maka
kita membu-tuhkan jenis bahasa deskriptif yang lebih kuat yang terkandung dalam
teori structural. Eksperimen bagian ini menunjukkan bahwa Sutherland benar.
Teori Teknik Penyebutan-Sebagian
1. Model Sperling
Pada tahun 1963 Sperling mengajukan model pemrosesan
informasi atas performa tugas penyebutan visual dalam peneli-tiannya.Model
Sperling adalah orang yang pertama-tamamengkonstruksi model awal pemrosesan
informasi pada pengenalan objek visual. Masalah umum dalam mengkonstruksi model
pemrosesan informasi adalah mengidentifikasi penyebab keterba-tasan performa
dalam pelaksanaan suatu tugas. Model tersebut terdiri atas:
a. penyimpanan informasi visual
(visual information store atau VIS) merupakanpenyimpanan sensori yang
menjaga informasi selama waktu yang singkat dari pecahan detik hingga satu
detik,
b. pengulangan (rehearsal), yaitu
mengatakan huruf-huruf pada diri sendiri)
c. penyimpanan informasi
auditori (auditor information store), yaitu mengingat namahuruf.
2. Model Rumelhart
Tahun 1970, Rumelhart mengajukan model matematis
yang detail mengenai performa pada tugas pemrosesan informasi yang memiliki
jangkauan yang luas, meliputi prosedur penyebutan-keseluruhan dan prosedur
penyebutan-sebagian yang diteliti oleh Sperling. Model Rumelhart dibangun
dengan asumsi kunci model Sperling, seperti pentingnya penyimpanan informasi
visual dan penggunaan scan parallel untuk mengenali pola.
Teori Leher Botol
Teori yang mencoba menjelaskan bagaimana orang
menyeleksi informasi ketika beberapa tahap pemrosesan informasi menjadi
kelebihan beban dengan terlalu banyak informasi. Teori Leher Botol dibagi
menjadi beberapa model, yaitu:
1. Model Penyaringan dari Broatbent,
yaitu: Bahwa Sebuah Fenomena leher botol terjadi: dalam tahap pengenalan pola
dan bahwa perhatian menentukan informasi mana yang akan mencapai tahap
pengenalan pola.
2. Model Pelemahan dari Treisman, yaitu: Treisman
(1960) menemukan efek konstektual (contextual effect) bahasa yang
dapat menyebabkan subjek menyebutkan kata-kata pada saluran yang diabaikan,
sehingga membuat bayangan dengan tidak tepat.
3. Model Seleksi Memori dari
Deutsh-Norman: Model ini berasumsi bahwa kata-kata pada dua percakapan dapat dikenali,
namun terlupakan dengan cepat, kecuali kata-kata tersebut penting.
Teori Kapasitas
Berasumsi bahwa seseorang memiliki control atas
alokasi penggunaan kapasitas yang terbatas untuk melakukan tugas yang berbeda,
Misalnya Seseorang biasanya mengendarai sebuah mobil sambil bercakap pada saat
yang sama jika kedua aktivitas tersebut tidak melebihi kapasitas kita untuk
melakukan dua tugas yang berbeda.
Teori Pemrosesan Otomatis (Automatic Processing)
Beberapa teori berpendapat bahwa kebanyakan hal yang
kita lakukan tidak ditentukan oleh pilihan-pilihan disengaja, tetapi lebih
ditentukan oleh ciri-ciri lingkungan yang mengawali proses mental yang
berlangsung di luar kesadaran (Barg&Chatrand, 1999). Salah satu
karak-teristik pemrosesan otomatis adalah terjadi tanpa disadari. Akuisisi
pemrosesan oto-matis sering kali menguntungkan karena melakukan aktivitas rutin
tanpa perlu banyak konsentrasi dan usaha mental. Walaupun demikian, pemrosesan
otomatis juga tidak menguntungkan, yaitu seseorang jadi kurang berfikir tentang
apa yang dilakukan, sehingga mungkin akan melakukan kesalahan konyol atau gagal
mengingat apa yang telah dilakukan. Posner dan Snyder (1975) telah menyatakan
bahwa ada tiga criteria untuk menentukan apakah suatu keterampilan bersifat
otomatis. Suatu keterampilan disebut otomatis apabila : terjadi tanpa
disengaja; tidak membangkit-kan kesadaran; tidak terganggu aktivitas mental
yang lain.
Teori Memori
Sebuah teori memori yang diusulkan oelh Atkinson
danShiffrin(1968, 1971)yang menekankan pada interaksi antara penyim-panan
sensoris, memori jangka pendek, dan jangka panjang (LTM). Memori Jangka pendek
sebagai komponen dasar kedua dalam sistem Atkinson dan Shiffrin adalah bersifat
terbatas baik dalam kapasitas maupun durasi. Informasi akan hilang dalam waktu
20-30 detik jika tidak diulang. Memori jangka panjang memiliki kapasitas yang
tidak terbatas dan dapat menahan informasi dalam jangka waktu yang lebih lama,
namun sering kali memerlukan usaha yang keras agar dapat memasukkan informasi
ke memori ini. Fakta bahwa STM di butuhkan ketika kita menyelesaikan sebagian
besar tugas-tugas kognitif mencer-minkan peran penting STM sebagai
sebuah memori kerja (working memory)yang menjaga dan memanipulasi informasi.
Teori yang diajukan oleh Atkinson san Shiffrin
(1968, 1971) menekankan pada interaksi antara STM dan LTM. Memori jangka
penjang memiliki dua manfaat penting: Pertama, sebagaimana diketahui, kecepatan
lupa jauh lebih rendah untuk LTM. Beberapa psikologi bahkan menya-takan bahwa
informasi dalam LTM tidak pernah hilang meskipun kita kehilangan kemampuan
untuk memanggil kembali informasi tersebut; dan LTM memiliki kapasitas yang
tidak terbatas.
Meskipun demikian, tidaklah selalu mudah memasukkan
informasi baru ke dalam LTM. Atkinson dan Shiffrin mengajukan beberapa proses
kontrol yang dapat digunakan sebagai usaha untuk mempelajari informasi baru.
Proses kontrol (control proses) adalah strategi yang digunakan seseorang untuk
memfasilitasi perolehan pengetahuan. Strategi tersebut meliputi strategi
akuisisi terhadap:
a. Pengulangan (rehearsal)
merupakan repitisi informasi baik dengan keras maupun lirih secara
terus-menerus hingga informasi tersebut berhasil dipelajari.
b. Pengodean (coding) berusaha menempatkan
informasi agar dapat diingat dalam konteks informasi tambahan yang mudah
diingat, seperti frase atau kalimat mnemonic.
c. Membuat gambaran (imaging)
meliputi menciptakan gambaran visual agar materi lebih mudah diingat. Strategi
ini merupakan trik memori lama bahkan trik ini direkomendasikan oleh Cicero di
Romawi Kuno untik mempelajari daftar yang panjang atau pidato. Pengulangan
verbal biasanya dianggap sebagai suatu bentuk pembelajaran dengan sistem hafal
(rote learning) karena meli-batkan pengulangan informasi secara terus-menerus
sampai kita piker sudah berhasil mempelajarinya. Pengulangan verbal bergu-na
ketika materi yang dipelajari agak abstrak yang sulit dengan menggunakan
strategi pengodean atau membuat gambaran. Tugas yang didesain oleh Atkinson dan
Shiffrin (1968) menuntun pembelajaran materi yang abstrak dan tidak
bermakna, sehingga mendorong subjek untuk menggunakan pengulangan.
Penyebab Lupa Yang Terjadi Pada Proses Teori
Interferensi Dan Teori Aus
Informasi dalam memori jangka pendek akan hilang
dengan cepat kecuali dijaga dengan pemanggilan kembali informasi tersebut.
Peterson dan Peterson (1959) dari Universitas Indiana membuktikan tingkat
kecepatan lupa dari STM. Mereke mengetes kemampuan mahasiswa dalam mengingat
tiga konsonan dalam jangka angka, mulai dari sebuah angka yang jatuh setelah
konsonan. Teori-teori yang menyebabkan lupa, yaitu:
1. Teori Interferensi
(Interference theory)menyatakan bahwa mengingat hal-hal lain atau
melakukan tugas lain dapat mengganggu proses mengingat dan menyebabkan lupa.
2. Teori Aus (decay theory)
menyatakan bahwa lupa akan tetap terjadi meskipun subjek tidak diminta untuk
melakukan hal-hal lain selama jangka waktu mengingat jika subjek tidak melatih
informasi tersebut.Teori aus memprediksi bahwa performa subjek akan lebih baik
pada penyajian dengan kecepatan tinggi karena lebih sedikit waktu bagi
informasi untuk aus dari memori.
Penemuan Waugh dan Norman men-dukung pendapat bahwa
interferensi penyebab utama lupa, bukan factor aus. Penemuan bahwa interferensi
merupakan penyebab utama dari proses melupakan kabar baik. Jika informasi
secara spontan aus dari memori, maka kita akan mampu mencegah hilangnya
informasi tersebut. Jika informasi hilang dikarenakan oleh inter-ferensi, kita
dapat meningkatkan ingatan dengan menstrukturisasi pembelajaran agar dapat
meminimalisasi interferensi. Selain itu para psikolog sudah membedakan antara
dua jenis interferensi, yaitu:
a. interferensi
retroaktif (retroactive inter-ference) disebabkan oleh informasi
yang terjadi setelah sebuah kejadian. Penelitian Waugh dan Norman (1965)
mendemons-trasikan pengaruh interferensi retroatif, yaitu jumlah angka yang
mengikuti angka pemeriksaan mempengaruhi sejauh mana angka tersebut dapat
diingat dengan baik.
b. interferensi proaktif (proactive
inter-ference)disebabkan oleh kejadian-kejadian yang terjadi sebelum peristiwa
di mana seseorang berusaha untuk mengingat kembali. Keppel dan Under-wood
(1962) sebelumnya telah mendemonstrasikan pengaruh interferensi proaktif dalam
tugas STM dari Peterson dan Peterson.
Berkurangnya interferensi disebut sebagai lepas dari
interferensi proaktif (fromproactive interference) (D.D. Wickens, Born,
&Allen, 1963). Penelitian yang dilakukan oleh Wickens dan koleganya
merupakan yang pertama dari banyak penelitian yang menunjukkan bahwa mengingat
kembali item berikutnya dapat ditingkatkan dengan membuatnya berbeda dengan
item sebelumya. Lepas dari interferensi proaktif juga terjadi ketika orang
diminta untuk mengingat kejadian yang lebih kompleks (Gunter, Clifford,
&Berry, 1980). Salah satu cara terbaik untuk mengingat materi sepanjang
hidup kita adalah dengan meluangkan waktu untuk mempelajarinya
(Bahrick&Hall, 1991).
Engle dan Oransky (1999) menyatakan perbedaan
individu dalam mengukur kapasitas memori kerja mencerminkan perbedaan dalam
perhatian terkontrol dan bahwa perbedaan-perbedaan tersebut akan dicerminkan
hanya dalam situasi yang mendorong maupun menuntun perhatian terkontrol.
Meskipun sulit bagi kita untuk membayangkan perjuangan seseorang yang mengalami
kerusakan memori, kita semua iri pada seseorang yang memiliki memori eksternal
yang sangat bagus dan berharap kita dapat meningkatkan memori kita sendiri.
Bagi siswa, harapan ini terutama ditujukan saat mereka menghadapi ujian. Jika
saja kita dapat mengingat segala sesuatu yang telah dipelajari, kita dapat
melakukannya dengan jauh lebih baik. Kebutuhan untuk mengingat materi setelah
Permasalahan:
1. Kita tau bagi siswa maupun mahasiswa yang namanya sekolah pasti banyak sekali yang harus dipelajari, apalagi para siswa yang disekolah umumnya mempelajari 12 mata pelajaran nah yang saya tanyakan bagaimana siswa maupun mahasiswa memahami semua pelajaran yang telah dipelajari dapat bertahan lama atau tersimpan dimemori jangka panjang kita?
1. Kita tau bagi siswa maupun mahasiswa yang namanya sekolah pasti banyak sekali yang harus dipelajari, apalagi para siswa yang disekolah umumnya mempelajari 12 mata pelajaran nah yang saya tanyakan bagaimana siswa maupun mahasiswa memahami semua pelajaran yang telah dipelajari dapat bertahan lama atau tersimpan dimemori jangka panjang kita?
2. Teori
yang seperti apa yang biasa disenangi oleh peserta didik dan juga oleh guru? sehingga
proses pembelajaran berjalan dengan efektif.
Sumber
Arif Mustofa, M.
Thobroni, 2012. “Belajar & Pembelajaran: Pengembangan Wacana
dan Praktik Pembelajaran
dalam Pembangunan Nasional, Jakarta: Ar Ruzz Media
Budiningsih, C. Asri. 2005. Belajar dan
Pembelajaran, cet.1 Jakarta: Rineka Cipta
Leslie J. Briggs, Robert M. Gagne, Principles of
Instructional DesignI, 1978. New York Chicago San Francisco Dallas
Sudjana, Nana. 1989. Dasar-dasar Proses Belajar,
Bandung: Sinar Baru Algesindo
Syah, Muhibbin. 2003. Psikologi Belajar, Jakarta
: Raja Grapindo Persada
selamat malam saudari enda, saya akan mencoba menjawab permasalahan anda yang ke-2 . menurut saya teori yang pas yaitu konsep Teoritis, kenapa?
BalasHapuskarena Teori ini sangat berkaitan dengan apa yang menjadi permasalahan
dalam penelitian. Dengan berpijak pada kerangka teoritis, penelitian ini
diharapkan dapat mengkaji suatu masalah dengan benar. Sebagaimana dalam
buku pendidikan islam bahwa semakin banyak fakta yang diperoleh dalam
lingkup ilmu pengetahuan, maka semakin besar kegunaannya untuk menyusun
dan menjelaskan fakta-fakta sehingga menjadi sebuah teori. Dalam kaitan
inilah diperlukan pemilihan objek (sasaran) penelitian yang pada gilirannya
akan mengembangkan suatu teori dari ilmu pengetahuan tersebut.
Saya akan mencoba menjawab permasalahan Anda yg pertama. Ada beberapa cara agar seorang siswa dapat mengingat materi pelajaran diantaranya :
BalasHapus1. Membaca
Membaca adalah kunci belajar agar anda mengerti. Bacalah materi baru 2 kali dalam satu hari, yakni sebelum saat serta setelah materi itu diterangkan. Otak yang telah memproses materi itu sejumlah 3 kali akan tersimpan cukup lama di otak anda.
2. Mengertinya
Belajar yang benar itu bukan hanya sebatas menghapal, namun mesti mengertinya. Anda bisa saja menghafal 100% semua detil pelajaran, namun yang lebih utama yaitu apakah anda mengerti semua semua materi yang di hafal itu? Supaya yang dipelajari itu tak cepat dilupakan, alangkah sebaiknya untuk mengerti dahulu garis besar materi pelajaran sebelum saat anda menghafal.
3. Mencatat beberapa hal penting
Anda mesti mengambil intisari atau rangkuman dari tiap-tiap pelajaran yang telah di baca lagi. Kalimat kunci tersebut yang kelak bermanfaat waktu ujian kelak lantaran anda telah mengingatnya. Dengan mencatat beberapa hal utama itu, beberapa besar bakal anda ingat.
4. Menghafalkan kalimat kunci
Kadang-kadang, anda diharuskan menghafal materi yang demikian banyak. Tetapi ada cara untuk menyiasatinya yakni denga bikin keyword. Buat kalimat kunci dari tiap-tiap hafalan supaya gampang diingat pada waktu otak anda memanggilnya. Umpamanya, keyword untuk nama warna pelangi yaitu ‘Mejikuhibiniu’, yang berarti merah, jingga, kuning, hijau, biru, nila, serta ungu.
5. Tentukan saat belajar yang tepat
Belajar yang paling enak yaitu pada waktu tubuh anda tetap fresh. Saat belajar yang dikerjakan tiap-tiap orang itu berlainan. Namun umumnya, pagi hari adalah saat yang pas untuk berkonsentrasi penuh. Anda dapat memakai saat ini untuk memproses materi-materi baru. Sisa-sisa daya dapat dipakai untuk mengulang pelajaran serta kerjakan pekerjaan rumah.
6. Bangun situasi belajar yang nyaman
Beberapa hal yang dapat bikin situasi belajar anda nyaman, Satu diantara cara yang dapat anda kerjakan yakni menentukan area yang
sunyi supaya dapat berkonsentrasi. Tetapi ada juga orang yang belajar sembari dengarkan musik kesukaannya. Beragam cara itu dapat anda kerjakan seandainya dapat bikin nyaman serta terus berkonsentrasi.
7. Membuat grup belajar
Bila jemu belajar sendiri, maka anda dapat membuat grup belajar. Buat grup belajar yang beranggotakan 5 orang. Lalu, tiap-tiap orang dengan cara bergilir menerangkan materi yang dikuasainya pada semua anggota yang lain. Situasi belajar seperti ini pastinya bakal jadi nyaman serta seru.
8. Melatih kemampuan
Pada tiap-tiap akhir bab pelajaran, umumnya senantiasa diberikan soal-soal latihan. Tiada butuh menanti perintah dari guru, anda dapat segera menjawab semua pertanyaan itu serta periksa sejauh mana kekuatan yang anda punyai. Bila ada yang kurang terang tentang pertanyaannya, maka anda dapat ajukan pertanyaan pada guru.
9. Meningkatkan materi yang telah dipelajari
Bila anda telah mengulang materi serta menjawab masalah, maka janganlah segera tutup buku. Anda dapat bikin pertanyaan yang belum diikutkan dalam masalah latihan serta mintalah pertolongan guru untuk menjawabnya. Bila belum terasa senang, maka anda dapat mencari jawabannya dari buku atau internet. Cara ini dapat dikerjakan supaya anda senantiasa memikirkan ke depan serta gawat.
10. Beristirahat
Belajar boleh-boleh saja namun jangan sempat lupa juga sediakan saat untuk beristirahat. Sesudah 30-45 menit belajar dirumah, anda mesti selekasnya beristirahat untuk melemaskan tubuh serta pikiran. Janganlah memaksakan belajar bila pikiran tengah jemu lantaran cuma menghabiskan waktu anda saja.
selamat malam.
BalasHapussaya akan mencoba menjawab permasalahan anda yang nomor 2 menurut saya adalah Teori kapasitas. Misalnya pada model pembelajaran cooverative learning, kelompok-kelompok kecil siswa bekerja sama memecahkan suatu masalah yang telah disepakati oleh siswa dan guru.
Ketika guru sedang menerapkan model pembelajaran tersebut, seringkali siswa menggunakan bermacam-macam keterampilan, prosedur pemecahan masalah dan berpikir kritis. Model pembelajaran berdasarkan masalah dilandasi oleh teori belajar konstruktivis. Pada model ini pembelajaran dimulai dengan menyajikan permasalahan nyata yang penyelesaiannya membutuhkan kerjasama di antara peserta didik. [1] Dalam model pembelajaran ini guru memandu siswa menguraikan rencana pemecahan masalah menjadi tahap-tahap kegiatan; guru memberi contoh mengenai penggunaan keterampilan dan strategi yang dibutuhkan supaya tugas-tugas tersebut dapat diselesaikan. Guru menciptakan suasana kelas yang fleksibel dan berorientasi pada upaya penyelidikan oleh siswa.
Saya akan mencoba menjawab permasalahan nomor 2.
BalasHapusSebagai seorang guru sebaiknya memberikan metode belajar yang tidak monoton, yang menuntut siswa untuk menggunkan kemampuan otak dan gaya belajarnya akan sangat memudahkan anda dalam menyampaikan materi pelajaran yang harus siswa tahu dan pahami. Apalagi, dengan metode belajar yang tepat, anak bisa menyerap materi pelajaran dengan baik yang nantinya akan mereka tunjukkan dengan menjawab pertanyaan yang diberikan saat ujian.
Dengan metode belajar yang bisa memanfaatkan kemampuan, kreativitas dan memudahkan anak dalam menyerap satu pelajaran, jelas sangat menguntungkan kedua belah pihak. Siswa mengerti dan paham dengan apa yang anda sampaikan dan anda sukses dengan target yang telah ditetapkan oleh kurikulum sekolah. Keuntungan lain yang bisa anda dapatkan adalah, anda bisa menjadi pengajar idola dan disukai oleh siswa di sekolah. Ini tentunya akan memberi kesan lain yang tidak bisa anda dapatkan di luar sana.
Menurut saya ada 2 komponen yang baik digunakan dalam proses pembelajaran,.
1. Metode eksperimen
Adalah cara penyajian pelajaran yang di mana, siswa melakukan percobaan dengan mengalami dan membuktikan sendiri teori satu mata pelajaran. Siswa dituntut untuk mengalami dan mencari kebenaran atau mendapatkan kesimpulan dari proses belajar yang sedang dieksperimenkan. Ini akan sangat memudahkan siswa untuk memahami satu mata pelajaran dan hasil dari eksperimen ini akan diingat lama oleh siswa. Hal ini disebabkan karena siswa menggunakan tiga modalitas gaya belajar sekaligus, gaya belajar auditori, visual dan kinestetik dalam mendapatkan informasi yang dibutuhkan. Selain itu, siswa juga bisa menemukan satu teori dan kesimpulan sendiri yang lebih memicunya untuk berkreasi dari mata pelajaran yang sedang dieksperimenkan.
2. Metode Demonstrasi
Metode ini menuntut siswa untuk mendemonstrasikan satu materi pelajaran. Baik itu barang, kejadian dan aturan atau urutan dalam melakukan satu kegiatan baik secara langsung atau pun melalui media lain. Guru menunjukkan secara langsung tentang materi pelajaran yang akan dipahami oleh siswa.
Manfaat yang bisa didapatkan oleh siswa dengan menggunakan metode ini adalah siswa dijadikan sebagai pusat perhatian, dimana siswa dapat melakukan satu proses belajar secara kongkrit. Selain itu pengalaman yang siswa bisa dapatkan akan menjadi kesan yang membuat mereka lebih lama mengingat materi pelajaran yang sedang anda ajarkan.
Baiklah saya akan menjawab permasalahan nomer 2..menurut saya teori yang bisa di senangi siswa dan guru ialah Teori Kognitif.karna
BalasHapusTeori ini lebih menekankan kepada proses belajar dari pada hasil belajar. Bagi yang menganut aliran kognitivistik belajar tidak hanya melibatkan hubungan antara stimulus dan respons. Lebih dari itu belajar adalah melibatkan proses berpikir yang sangat kompleks. Menurut teori kognitivistik, ilmu pengetahuan dibangun didalam diri seseorang melalui proses interaksi yang berkesinambungan dengan lingkungan. Apalagi dalam teori kognitif menurut tokoh bruner.. Bruner mengusulkan teori yang disebutnya free discovery learning. Teori ini menjelaskan bahwa proses belajar akan berjalan dengan baik dan kreatif jika guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk menemukan suatu aturan termasuk konsep, teori, ide, definisi dan sebagainya melalui contoh-contoh..nah dapam hal ini siswa diberi kesempatan untuk menemukan sendiri konsep.ide nya,tanpa harus di kekang oleh guru nya..dan tentunya teori kognitif brunrr ini mempermudah guru..sehingga guru tidak harus repot mencari konsep.ide atau gagasan...dan biasanya jika siswa diberi kebebasan siswa akan lebih tertarik dal proses belajar nya
saya akan menambahkan jawaban dari permasalahan nomoer 1. yang mana, Model belajar pemrosesan informasi ini sering pula disebut model kognitif information processing, karena dalam proses belajar ini tersedia tiga taraf struktural sistem informasi, yaitu:
BalasHapus1) Sensory atau intake register: informasi masuk ke sistem melalui sensory register, tetapi hanya disimpan untuk periode waktu terbatas. Agar tetap dalam sistem, informasi masuk ke working memory yang digabungkan dengan informasi di long-term memory.
2) Working memory: pengerjaan atau operasi informasi berlangsung di working memory, dan di sini berlangsung berpikir yang sadar. Kelemahan working memory sangat terbatas kapasitas isinya dan memperhatikan sejumlah kecil informasi secara serempak.
3) Long-term memory, yang secara potensial tidak terbatas kapasitas isinya sehingga mampu menampung seluruh informasi yang sudah dimiliki peserta didik. Kelemahannya adalah betapa sulit mengakses informasi yang tersimpan di dalamnya.
Diasumsikan, ketika individu belajar, di dalam dirinya berlangsung proses kendali atau pemantau bekerjanya sistem yang berupa prosedur strategi mengingat, untuk menyimpan informasi ke dalam long-term memory (materi memory atau ingatan) dan strategi umum pemecahan masalah (materi kreativitas).
Setiap siswa memiliki daya ingat yang berbeda-beda dalam proses belajar mereka. Pebedaan cara inilah yang dapat mempengaruhi banyak atau sedikitnya materi yang dapat ditangkap oleh siswa. Kemampuan mengaplikasikan mata pelajaran dalam pembelajaran yang digunakan menjadi salah satu faktor keberhasilah siswa dalam meningkatkan daya ingat mereka dalam waktu yang lama.
Ingatan adalah tempat penyimpanan data fisik dalam otak kita. Ingatan bersifat pribadi dan menyimpan sejarah hidup kita. Ingatan memberi kita apa yang akan kita lakukan kemarin, sepuluh tahun lalu atau apa yang akan kita lakukan besok (Iddon & Williams, 2006: 8). Selain pendapat tersebut, daya ingat atau memory adalah fungsi mental yang menangkap informasi dari stimulus, dan ia merupakan storage system, yakni sistem penyimpanan informasi dan pengetahuan yang terdapat di dalam otak manusia. Di sini, memori merupakan sistem kerja otak manusia untuk menangkap dan menyimpan pengetahuan. daya ingat atau memory adalah fungsi mental yang menangkap informasi dari stimulus, dan ia merupakan storage system, yakni sistem penyimpanan informasi dan pengetahuan yang terdapat di dalam otak manusia. Daya ingat anak dapat dikembangakan dengan proses pembelajaran yang efektif. Pembelajaran efektif mencakup beberapa faktor yaitu, frekuensi, ketekunan, latihan silang, adaptasi, motivasi, dan perhatian.
Saya akan mencoba menjawab permasalahan no. 1 saudari enda,
BalasHapusDari permasalahan diatas hal yang penting adalah minat siswa dan semangat siswa dalam belajar. Kita tahu bahwa banyak seklai materi yang dipelajari dalam 1 minggu, termasuk tugas yang pasti menumpuk. Maka diharapkan siswa tetap semangat dna tidak bosan. Dan siswa juga diharapkan belajar dengan ikhlas. Siswa harus lebih rajin brlajarnya dan mengulang setiap materi seblum pembelajaran dihari berikutnya. Kemudian untuk dapat menyimpan materi atau informasi di memori jangka panjang maka siswa harus membiasakan mengkode atau memsandikan informasi yang diterimanya dalam bentuk yang menarik yang mudah diingat oleh dirinya.
menambahkan jawaban terkait permasalahan anda bagaimana siswa maupun mahasiswa memahami semua pelajaran yang telah dipelajari agar dapat bertahan lama atau tersimpan dimemori jangka panjang adalah dengan mencatat pokok-pokok penting ketika guru/dosen menjelaskan. Dan jika ada waktu kosong, sebaiknya diulas kembali untuk lebih memaknai/memahami informasi yang didapatkan tersebut.
HapusMenurut American Psychological Association, mnemonic devices atau perangkat mnemonic dapat meningkatkan memori dengan menghubungkan informasi lama ke informasi baru. Informasi ini bisa dalam berbagai bentuk seperti gambar atau kata. Untuk menggunakan perangkat mnemonik visual, disarankan untuk mengasosiasikan gambar 3-D hidup dengan kata yang perlu diingat.
Dalam proses pembelajaran, lupa kerap kali terjadi dalam belajar kognitif, di mana siswa banyak “belajar verbal”, yaitu belajar yang menggunakan bahasa. Bahasa merupakan alat untuk berkomunikasi, peserta didik mempergunakan bahasa untuk mempelajari sumber-sumber tertulis, mengajukan pertanyaan dalam bentuk bahasa lisan dan merumuskan hasil belajarnya dalam bentuk perumusan verbal. Guru juga mempergunakan bahasa, dalam memberikan bimbingan belajar, dalam mengajukan pertanyaan, dalam menuntut prestasi belajar dan dalam memberi umpan balik. Hasil belajar kognitif kerap disimpan dalam ingatan dalam bentuk perumusan verbal, misalnya pengetahuan, konsep, kaidah serta prinsip yang diproses melalui ingatan jangka pendek (STM) untuk diolah (encoding), kemudian dapat dipanggil (retrieval) dan dimasukkan ke dalam ingatan jangka panjang (LTM) yang rentan terjadinya lupa akibat informasi rusak (decay) dan terhalang (interference). Hasil belajar psikomotorik dan sikap, tidak begitu mudah terlupakan, karena keterampilan motorik dan sikap, sekali dibentuk, cenderung bertahan terus, bahkan menjadi semakin kuat dan mulai merupakan kebiasaan-kebiasaan yang tidak lagi disertai kadar kesadaran yang tinggi.
BalasHapusSaya akan menjawab permasalahan yang pertama yaotu dengan cara mengulangi kembali belajar dirumah, menulis ulang yang telah dipelajari malamnya, membuat hal yang tentang materi tersebut agar mudah diingat
BalasHapusSaya akan menjawab permasalahan yang pertama yaotu dengan cara mengulangi kembali belajar dirumah, menulis ulang yang telah dipelajari malamnya, membuat hal yang tentang materi tersebut agar mudah diingat
BalasHapussaya akan menambahkan jawaban dari permasalahan nomoer 1. yang mana, Model belajar pemrosesan informasi ini sering pula disebut model kognitif information processing, karena dalam proses belajar ini tersedia tiga taraf struktural sistem informasi, yaitu:
BalasHapus1) Sensory atau intake register: informasi masuk ke sistem melalui sensory register, tetapi hanya disimpan untuk periode waktu terbatas. Agar tetap dalam sistem, informasi masuk ke working memory yang digabungkan dengan informasi di long-term memory.
2) Working memory: pengerjaan atau operasi informasi berlangsung di working memory, dan di sini berlangsung berpikir yang sadar. Kelemahan working memory sangat terbatas kapasitas isinya dan memperhatikan sejumlah kecil informasi secara serempak.
3) Long-term memory, yang secara potensial tidak terbatas kapasitas isinya sehingga mampu menampung seluruh informasi yang sudah dimiliki peserta didik. Kelemahannya adalah betapa sulit mengakses informasi yang tersimpan di dalamnya.
Diasumsikan, ketika individu belajar, di dalam dirinya berlangsung proses kendali atau pemantau bekerjanya sistem yang berupa prosedur strategi mengingat, untuk menyimpan informasi ke dalam long-term memory (materi memory atau ingatan) dan strategi umum pemecahan masalah (materi kreativitas).
Setiap siswa memiliki daya ingat yang berbeda-beda dalam proses belajar mereka. Pebedaan cara inilah yang dapat mempengaruhi banyak atau sedikitnya materi yang dapat ditangkap oleh siswa. Kemampuan mengaplikasikan mata pelajaran dalam pembelajaran yang digunakan menjadi salah satu faktor keberhasilah siswa dalam meningkatkan daya ingat mereka dalam waktu yang lama.
Ingatan adalah tempat penyimpanan data fisik dalam otak kita. Ingatan bersifat pribadi dan menyimpan sejarah hidup kita. Ingatan memberi kita apa yang akan kita lakukan kemarin, sepuluh tahun lalu atau apa yang akan kita lakukan besok (Iddon & Williams, 2006: 8). Selain pendapat tersebut, daya ingat atau memory adalah fungsi mental yang menangkap informasi dari stimulus, dan ia merupakan storage system, yakni sistem penyimpanan informasi dan pengetahuan yang terdapat di dalam otak manusia. Di sini, memori merupakan sistem kerja otak manusia untuk menangkap dan menyimpan pengetahuan. daya ingat atau memory adalah fungsi mental yang menangkap informasi dari stimulus, dan ia merupakan storage system, yakni sistem penyimpanan informasi dan pengetahuan yang terdapat di dalam otak manusia. Daya ingat anak dapat dikembangakan dengan proses pembelajaran yang efektif. Pembelajaran efektif mencakup beberapa faktor yaitu, frekuensi, ketekunan, latihan silang, adaptasi, motivasi, dan perhatian.
Media pengantar mengacu pada sistem yang dipakai untuk menyajikan informasi, misalnya media berbasiskan media cetakan atau media berbasiskan komputer. Desain pesan mengacu pada bentuk yang digunakan untuk menyajikan informasi, misalnya pemakaian animasi atau teks audio. Kemampuan sensorik mengacu pada jalur pemrosesan informasi yang dipakai untuk memproses informasi yang diperoleh, seperti proses penerimaan informasi visual atau auditorial. Sebagai contoh, suatu paparan tentang bagaimana sistem sesuatu alat bekerja dapat dipresentasikan melalui teks tertulis dalam buku atau melalui teks di layar komputer (dua media yang berbeda), dalam bentuk rangkaian kata-kata atau kombinasi kata-kata dan gambar (dua desain pesan yang berbeda), atau dalam bentuk kata-kata tertulis atau lisan (dua sensorik yang berbeda).
BalasHapusbaiklah saya ngin menaggapi permasalahan anda yang pertama. menurut saya permasalahan diatas dapat diatasi dengan memngajarkan konsep yang penting-penting saja dan tepat bagi siswa, sehingga ia dapat mengingatnya dalam jangka waktu yang lebih panjang
BalasHapusKomentar ini telah dihapus oleh pengarang.
BalasHapusterima kasih ya, materinya sangat bermanfaat sekali
BalasHapusterima kasih ya, materinya sangat bermanfaat sekali
BalasHapusDengan cara mengulang kembali pelajaran yang telah lewat. Secara rutin dn berngsur angsur.
BalasHapusTerimakasih materinya cukup membantu
BalasHapusSaya sependapat dengan yulisa
BalasHapusSetiap siswa memiliki daya ingat yang berbeda-beda dalam proses belajar mereka. Pebedaan cara inilah yang dapat mempengaruhi banyak atau sedikitnya materi yang dapat ditangkap oleh siswa. Kemampuan mengaplikasikan mata pelajaran dalam pembelajaran yang digunakan menjadi salah satu faktor keberhasilah siswa dalam meningkatkan daya ingat mereka dalam waktu yang lama.
Ingatan adalah tempat penyimpanan data fisik dalam otak kita. Ingatan bersifat pribadi dan menyimpan sejarah hidup kita. Ingatan memberi kita apa yang akan kita lakukan kemarin, sepuluh tahun lalu atau apa yang akan kita lakukan besok (Iddon & Williams, 2006: 8). Selain pendapat tersebut, daya ingat atau memory adalah fungsi mental yang menangkap informasi dari stimulus, dan ia merupakan storage system, yakni sistem penyimpanan informasi dan pengetahuan yang terdapat di dalam otak manusia. Di sini, memori merupakan sistem kerja otak manusia untuk menangkap dan menyimpan pengetahuan. daya ingat atau memory adalah fungsi mental yang menangkap informasi dari stimulus, dan ia merupakan storage system, yakni sistem penyimpanan informasi dan pengetahuan yang terdapat di dalam otak manusia. Daya ingat anak dapat dikembangakan dengan proses pembelajaran yang efektif. Pembelajaran efektif mencakup beberapa faktor yaitu, frekuensi, ketekunan, latihan silang, adaptasi, motivasi, dan perhatian.
Ingatan adalah tempat penyimpanan data fisik dalam otak kita. Ingatan bersifat pribadi dan menyimpan sejarah hidup kita. Ingatan memberi kita apa yang akan kita lakukan kemarin, sepuluh tahun lalu atau apa yang akan kita lakukan besok (Iddon & Williams, 2006: 8). Selain pendapat tersebut, daya ingat atau memory adalah fungsi mental yang menangkap informasi dari stimulus, dan ia merupakan storage system, yakni sistem penyimpanan informasi dan pengetahuan yang terdapat di dalam otak manusia.
BalasHapus