PENGEMBANGAN E-LEARNING DALAM
PEMBELAJARAN KIMIA
Pengertian
E-Learning
Pengertian e-learning pada umumnya terfokus pada
cakupan media atau teknologinya. E-learning menurut Gilbert & Jones dalam
Surjono (2007) adalah suatu pengiriman materi pembelajaran melalui suatu media
elektronik, seperti internet, intranet/ekstranet, satelite broadcast,
audio/video, TV interaktif, CD-ROM dan computer based training (CBT).
E-learning juga diartikan sebagai seluruh pembelajaran yang menggunakan
rangkaian elektronik (LAN, WAN atau Internet) untuk membantu interaksi dan
penyampaian materi selama proses pembelajaran (Kumar, 2006). Urdan dan Weggen
menyatakan e-learning sebagai suatu pengiriman materi melalui semua media
elektronik, termasuk internet, intranet, siaran radio satelit, alat perekam
audio/video, TV interaktif, dan CD-ROM (Anderson, 2005).
Penerapan e-learning lebih banyak dimaknai
sebagai pembelajaran menggunakan teknologi jaringan (net) atau secara online.
Hal ini berkaitan dengan perkembangan TIK yang mengarah pada teknologi online.
TIK saat ini, lebih difokuskan untuk pengembangan networking (jaringan) yang
memungkinkan untuk mengirim, memperbaharui, dan berbagi informasi secara cepat.
Keberhasilan penerapan dari e-learning bergantung pada beberapa faktor antara
lain teknologi, materi pembelajaran dan karakteristik dari peserta didik.
Teknologi merupakan faktor pertama yang mempunyai peran penting di dalam
penerapan e-learning, karena jika teknologi tidak mendukung maka sangat sulit
untuk menerapkan e-learning, minimal sekolah mempunyai komputer. Materi
pembelajaran juga harus sesuai dengan tujuan pembelajaran, dijabarkan secara
jelas atau diberikan link ataupun petunjuk sumber pembelajaran yang lain.
Karaktersitik peserta didik juga sangat dibutuhkan karena nilai utama di dalam
e-learning adalah kemandirian.
E-learning sangat berbeda dengan pembelajaran
secara tradisional. Pada pembelajaran tradisional, peran pendidik masih cukup
dominan, sedangkan pada e-learning peserta pendidik harus mempunyai kesadaran
untuk belajar secara aktif dan mandiri. Nedelko (2008), menjelaskan beberapa
karakteristik peserta didik yang dapat mempengaruhi dari keberhasilan
e-learning:
1) Mempunyai pengetahuan dan keterampilan untuk
menggunakan komputer dan TIK lainnya, karena e-learning didukung oleh
penggunaan komputer dan peralatan TIK.
2) Motivasi untuk belajar, peserta didik harus
mempunyai kesadaran untuk mempelajari bahan dan materi yang telah diberikan
guru, bukan hanya belajar ketika di kelas saja.
3) Disiplin, peserta didik harus disiplin untuk
belajar, mengerjakan tugas, dan menentukan waktu dan tempat untuk belajar.
4) Mandiri, kemandirian peserta didik mutlak
diperlukan di dalam e-learning, karena tidak setiap saat antara peserta didik
dan pendidik dapat bertatap muka. Pembelajaran tatap muka lebih bersifat
sebagai diskusi antara peserta didik dengan pendidik, bukan sebagai transfer
pengetahuan saja.
5) Mempunyai ketertarikan terhadap e-literatur,
karena hampir semua materi pembelajaran disajikan secara online ataupun melalui
media elektronik.
6) Dapat belajar secara sendirian (felling
isolation), peserta didik yang ketika belajar harus secara berkelompok atau ada
teman akan merasa kesulitan dengn e-learning.
7) Mempunyai kemampuan kognitif yang cukup
tinggi, peserta didik yang mengikuti e-learning hendaknya mempunyai kemampuan
kognitif tingkat sintesis dan evaluasi, hal ini dapat untuk mengatasi
permasalahan ketidakintesifan pendampingan pendidik dan teman sebayanya.
8) Mempunyai kemampuan untuk memecahkan masalah,
peserta didik yang dapat memecahkan masalah secara mandiri akan lebih mudah
mengikuti e-learning.
E-learning adalah suatu sistem atau konsep
pendidikan yang memanfaatkan teknologi informasi dalam proses belajar mengajar.
Berikut beberapa pengertian E-learning dari berbagai sumber:
1. Pembelajaran yang disusun dengan tujuan
menggunakan sistem elektronik atau komputer sehingga mampu mendukung proses
pembelajaran (Michael, 2013:27).
2. Proses pembelajaran jarak jauh dengan
menggabungkan prinsip-prinsip dalam proses pembelajaran dengan teknologi
(Chandrawati, 2010).
3. Sistem pembelajaran yang digunakan sebagai
sarana untuk proses belajar mengajar yang dilaksanakan tanpa harus bertatap
muka secara langsung antara guru dengan siswa (Ardiansyah, 2013).
Karakteristik
E-learning
Menurut Rosenberg (2001) karakteristik E-learning
bersifat jaringan, yang membuatnya mampu memperbaiki secara cepat, menyimpan
atau memunculkan kembali, mendistribusikan, dan sharing pembelajaran dan
informasi.
Karakteristik E-learning menurut Nursalam (2008:135) adalah:
Karakteristik E-learning menurut Nursalam (2008:135) adalah:
1. Memanfaatkan jasa teknologi elektronik.
2. Memanfaatkan keunggulan komputer (digital media
dan komputer networks)
3. Menggunakan bahan ajar yang bersifat mandiri
(self learning materials) kemudian disimpan di komputer, sehingga dapat diakses
oleh doesen dan mahasiswa kapan saja dan dimana saja.
4. Memanfaatkan jadwal pembelajaran, kurikulum,
hasil kemajuan belajar, dan hal-hal yang berkaitan dengan administrasi
pendidikan dapat dilihat setiap saat di komputer.
Manfaat
E-learning
Manfaat
E-learning adalah:
1. Fleksibel. E-learning memberi fleksibilitas
dalam memilih waktu dan tempat untuk mengakses perjalanan.
2. Belajar Mandiri. E-learning memberi kesempatan
bagi pembelajar secara mandiri memegang kendali atas keberhasilan belajar.
3. Efisiensi Biaya. E-learning memberi efisiensi
biaya bagi administrasi penyelenggara, efisiensi penyediaan sarana dan
fasilitas fisik untuk belajar dan efisiensi biaya bagi pembelajar adalah biaya
transportasi dan akomodasi.
Manfaat
E-learning menurut Pranoto, dkk (2009:309) adalah:
1. Penggunaan E-learning untuk menunjang
pelaksanaan proses belajar dapat meningkatkan daya serap mahasiswa atas
materi yang diajarkan.
2. Meningkatkan partisipasi aktif dari mahasiswa.
3. Meningkatkan partisipasi aktif dari mahasiswa.
4. Meningkatkan kemampuan belajar mandiri
mahasiswa.
5. Meningkatkan kualitas materi pendidik dan
pelatihan.
6. Meningkatkan kemampuan menampilkan informasi
dengan perangkat teknologi informasi, dimana dengan perangkat biasa sulit
dilakukan.
Kelebihan
E-learning
Kelebihan
E-learning ialah memberikan fleksibilitas, interaktivitas, kecepatan,
visualisasi melalui berbagai kelebihan dari masing-masing media (Sujana, 2005 :
253 ). Menurut L. Tjokro (2009:187), E-learning memiliki banyak kelebihan yaitu
:
1. Lebih mudah diserap, artinya menggunakan
fasilitas multimedia berupa gambar, teks, animasi, suara, video.
2. Jauh lebih efektif dalam biaya, artinya tidak
perlu instruktur, tidak perlu minimum audiensi, bisa dimana saja, bisa kapan
saja, murah untuk diperbanyak.
3. Jauh lebih ringkas, artinya tidak banyak
formalitas kelas, langsung pada pokok bahasan, mata pelajaran sesuai kebutuhan.
4. Tersedia 24 jam/hari – 7 hari/minggu, artinya
penguaasaan materi tergantung pada semangat dan daya serap siswa, bisa
dimonitor, bisa diuji dengan e-test.
Kekurangan
E-learning
Kekurangan E-learning menurut L. Gavrilova
(2006:354) adalah pembelajaran dengan model E-learning membutuhkan peralatan tambahan
yang lebih (seperti komputer, monitor, keyboard, dsb). Kekurangan E-learning
yang diuraikan oleh Nursalam (2008:140) sebagai berikut :
1. Kurangnya interaksi antara pengajar dan pelajar
atau bahkan antar pelajar itu sendiri.
2. Kecenderungan mengabaikan aspek akademik atau
aspek sosial dan sebaliknya membuat tumbuhnya aspek bisnis/komersial.
3. Proses belajar mengajar cenderung ke arah
pelatihan daripada pendidikan.
4. Berubahnya peran pengajar dari yang semula
menguasai teknik pembelajaran konvensional, kini juga dituntut mengetahui
teknik pembelajaran yang menggunakan ICT (information, communication, dan
technology).
5. Tidak semua tempat tersedia fasilitas internet (
mungkin hal ini berkaitan dengan masalah tersedianya listrik, telepon, ataupun
komputer).
6. Kurangnya sumber daya manusia yang menguasai
internet.
7. Kurangnya penguasaan bahasa komputer.
8. Akses pada komputer yang memadai dapat menjadi
masalah tersendiri bagi peserta didik.
9. Peserta didik bisa frustasi jika mereka tidak
bisa mengakses grafik, gambar, dan video karena peralatan yang tidak memadai.
10. Tersedianya infrastruktur yang bisa dipenuhi.
11. Informasi dapat bervariasi dalam kualitas dan
akurasi sehingga penduan dan fitur pertanyaan diperlukan.
12. Peserta didik dapat merasa terisolasi.
Untuk mengembangkan program e-learning ada beberapa tahapan,
dimulai dengan:
1) Analisis Kebutuhan Tujuan yang diharapkan
dicapai oleh suatu lembaga atau organisasi. Contoh: Dosen menerapkan teknologi
e-learning. Pada akhir semester prestasi mahasiswa kurang menggembirakan
sehingga pimpinan mengambil keputusan bahwa e-learning diganti dengan tatap
muka karena e-learning tidak cocok dengan gaya belajar mahasiswa yang
bersangkutan. Padahal apabila dianalisis, mahasiswa sangat antusias. Pada kasus
ini problem bukan terletak dari pada motivasi menurun atau e-learning kurang
tepat, tetapi karena program e-learning tidak terakses disebabkan padatnya
jaringan.
2) Mendeskripsikan
tingkat kinerja/kompetensi yang ingin dicapai Deskripsi ini diperlukan untuk
menetapkan materi pembelajaran, yang harus dipelajari sehingga dipersiapkan
dengan baik. Langkah ini berarti memilih materi serta pengalaman belajar yang
sesuai untuk mendukung pencapaian kompetensi.
3) Menetapkan
metode dan media pembelajaran Berbagai metode serta media yang biasa digunakan
dikelas tatap muka kemungkinan dapat diterapkan juga pada kelas online.
4) Menentukan
jenis evaluasi untuk mengetahui keberhasilan pembelajaran Untuk mengukur
keberhasilan pembelajaran, evaluasi berupa balikan atau revisi tugas-tugas.
Oleh karena itu pendekatan e-learning berupa pembelajaran mandiri, maka
pembelajar harus mengevaluasi diri sendiri sehingga mengetahui tingkat
keberhasilannya.
Pengembangan E-learning
Pengembangan bahan ajar berbasis e-learning dengan materi
hidrokarbon dan minyak bumi ini didasarkan pada model pengembangan yang
direkomendasikan oleh Thiagarajan (1974), yakni 4D-Model yang terdiri dari
pembatasan (define), perencanaan (design), pengembangan (develop), dan
penyebarluasan (disseminate).
1. Tahap pendefinisian (define)
Tahap pendefinisian (define) adalah untuk
menentukan dan menegaskan kebutuhan-kebutuhan pembelajaran. Langkah-langkah
yang dilakukan dalam tahap ini adalah: (1) analisis ujung depan yang mengarah
pada hasil akhir dari pengembangan yakni berupa bahan ajar berbasis e-learning,
(2) analisis siswa, langkah ini menetapkan subyek pebelajar dan sasaran belajar
siswa yaitu siswa kelas X semester 2 dengan materi pokok senyawa hidrokarbon
dan minyak bumi dengan karakter siswa yang telah mengenal internet, dan (3)
perumusan indikator hasil belajar yang dirumuskan berdasarkan standar
kompetensi dan kompetensi dasar pada kurikulum tingkat satuan pendidikan
(KTSP). Analisis siswa dibedakan menjadi dua, yaitu: (1) analisis tugas dengan
mencari literature dan sumber belajar tentang hidrokarbon dan minyak bumi dan
(2) analisis konsep yang dilakukan dengan mengidentifikasi konsep-konsep utama
yang akan dipelajari.
2. Tahap perencanaan (design)
Tahap perencanaan (design) meliputi tiga
langkah yaitu: (1) penyusunan tes dengan membuat soal yang bertujuan untuk
mengetahui tingkat pemahaman materi dan keberhasilan siswa dalam memahami
materi dalam bahan ajar, (2) pemilihan media untuk mendapatkan media yang tepat
sesuai dengan perkembangan era teknologi yang sedang berlangsung, yaitu media
internet, dan (3) perancangan awal yang meliputi membaca buku teks yang
relevan, menulis bahan ajar, adaptasi bahan ajar, konsultasi secara intensif
dengan dosen pembimbing.
3. Tahap pengembangan (develop)
Pada tahap pengembangan (develop) langkah-
langkah yang dilakukan adalah:
(1) konsultasi dengan pembimbing yang
bertujuan untuk merancang dan menyusun media dan instrumen yang akan dipakai
dalam penelitian,
(2) validasi yang merupakan kegiatan untuk
mengumpulkan data tentang nilai yang diperoleh dari validator,
(3) analisis hasil validasi, hasil validasi
dianalisis sesuai dengan penilaian, saran, dan kritik dari validator,
(4) revisi bahan ajar berbasis e-learning yang
bertujuan untuk menyempurnakan bahan ajar yang akan digunakan, dan
(5) uji coba terbatas, tujuan uji coba ini hanya
untuk mengetahui kelayakan dari produk pengembangan yakni bahan ajar berbasis
e-learning.
4. Tahap penyebarluasan (disseminate)
Tahap keempat yaitu penyebarluasan
(disseminate) merupakan tahap penggunaan bahan ajar yang telah dikembangkan
pada skala yang lebih luas. Tahap ini bertujuan untuk menguji efektivitas
penggunaan bahan ajar berbasis e-learning hasil pengembangan. Dalam pengembangan
ini, tahap penyebarluasan (disseminate) tidak dilakukan karena pertimbangan
keterbatasan waktu, tenaga, dan biaya. Selain itu, disesuaikan dengan tujuan
pengembangan bahan ajar berbasis e-learning yakni untuk mengetahui kelayakan
bahan ajar bukan untuk mengukur prestasi belajar siswa.
Contoh
e-learning dalam pembelajaran kimia
Bagaimana pembelajaran Kimia Polimer berbasis e-learning?
Sesuai dengan pengertian awam, e-learning yang dimaksudkan di sini adalah suatu
pembelajaran yang menggunakan jaringan komputer (intranet/Internet) dengan
dukungan teknologi Web sebagai media deliveri materi dan komunikasi. Sistem
pembelajaran ini dapat digunakan sebagai pendukung kegiatan belajar mengajar
tatap muka maupun digunakan sebagai bentuk pembelajaran mandiri. Secara garis
besar, teknis pelaksanaan e-learning dapat dilakukan dengan dua cara, yakni:
(1) hanya menggunakan media Web biasa, dan
(2) menggunakan software khusus e-learning berbasis Web yang
sering disebut dengan istilah learning management system (LMS).
Pada cara pertama, materi-materi pembelajaran disajikan pada
sebuah situs Web. Siapapun dapat mengakses materi secara bebas atau dibatasi
dengan password (seperti model langganan majalah/jurnal). Komunikasi bisanya
dilakukan menggunakan e-mail atau forum diskusi khusus. Dalam hal ini biasanya
tidak terdapat fasilitas portofolio, sehingga dosen tidak memiliki informasi
siapa yang telah mengakses materi tertentu dan kapan akses dilakukan. Yang
diperlukan untuk menggunakan pendekatan ini hanyalah sebuah server Web.
Pada cara kedua, selain diperlukan server Web juga diperlukan
sebuah software (LMS) yang berfungsi untuk mengelola e-learning.
Software (sistem) LMS biasanya mempunyai fasili- 7 tas-fasilitas
yang berfungsi untuk
(1) administrasi mahasiswa,
(2) penyajian materi,
(3) komunikasi,
(4) pencatatan (portofolio),
(5) evaluasi, bahkan
(6) pengembangan materi.
Berbeda dengan akses ke Web biasa, akses ke LMS biasanya
memerlukan nama user dan password, dan biasanya hanya dosen dan mahasiswa yang
terdaftar yang dapat melakukannya. Sistem LMS akan mencatat semua aktivitas
yang dilakukan mahasiswa selama mereka masuk ke dalam sistem e-learning. Gambar
3 menyajikan diagram arsitektur sistem e-learning berbasis LMS (diadopsi dari
Kojhani, 2004).
Sistem e-learning terdiri atas beberapa komponen, yakni:
(1) komputer server yang dilengkapi dengan server Web dan
sosftware LMS (learning management system) dan software pendukung lain,
(2) infrastruktur jaringan yang menghubungkan komputer klien ke
server,
(3) komputer klien tempat mahasiswa dan dosen mengakses kelas
online, dan
(4) bahan-bahan ajar yang disiapkan oleh dosen dan dimasukkan ke
dalam kelas online.
Sesuai dengan model di atas, komponen-komponen yang diperlukan
untuk membangun sistem e-learning meliputi:
(1) hardware server dengan spesifikasi yang memadai
(2) software untuk server: sistem operasi, server Web, dan server
e-learning (LMS, learning management system), serta software-software pendukung
lainnya (misalnya PHP, MySQL) (3) komputer klien dengan spesifikasi dan cacah
yang memadai untuk akses ke sistem elearning secara online
(4) software-software untuk komputer klien: sistem operasi,
browser Internet untuk mengakses server, software aplikasi dan authoring untuk
mengembangkan materi pembelajaran oleh dosen dan mengerjakan tugas-tugas oleh
mahasiswa
(5) infrastruktur jaringan LAN dan Internet yang diperlukan untuk
mengakses sistem perkuliahan online.
Melalui sistem e-learning mahasiswa dapat
membaca materi kuliah, mencoba demonstrasi dan simulasi, membaca tugas-tugas
dan mengirim jawabannya, Infrastruktur Software Server E-learning Bahan ajar
Server Web Mahasiswa/Dosen Infrastruktur Hardware 8 berkomunikasi dengan sesama
mahasiswa dan dosen. Gambar 4menyajikan model akses ke sistem
e-learning. Setelah infrastruktur pendukung e-learning siap, langkah yang
paling penting adalah melakukan persiapan dan melaksanakan kuliah online yang
dipadukan dengan kuliah tatap muka. Di sini peran dosen sangatlah penting
sebagai pengembang materi belajar dan fasilitator kegiatan pembelajaran. Sistem
e-learning atau LMS hanyalah sebuah alat. Pemanfaatannya sangat tergantung pada
dosen sebagai pengelola kelas. Dalam pengelolaan kelas secara online dosen
harus menyiapkan bahan-bahan ajar yang akan disajikan secara online dan
melakukan komunikasi secara online menggunakan fasilitas-fasilitas tersedia
pada LMS.
Permasalahan :
1.
menurut anda
apakah dengan adanya e-learning tersebut, kita tidak perlu lagi nantinya
melakukan pembelajaran tatap muka dikelas ?
2.
kita tau pengembangan e-learnning ini lebih
mengarah kepada personal atau bersifat individu, sehingga siswa yang aktif dan
cepat tanggap akan lebih cepat memahaminya dibanding dengan siswa yang lambat bagaimana
cara kita seorang guru menghomogenkan pengetahuan siswa dengan pengembangan
e-learning ini?


Saya akan mencoba menjawab permasalahan Anda yang pertama. Pembelajaran tatap muka juga diperlukan agar proses pembelajaran lebih efektif. Karena tidak semua materi yang disampaikan dapat dipahami dengan mudah. Tentu harus adanya penjelasan dari Pengajar meluruskan (dapat memberi arahan yang tepat) pada perbedaan atau pendapat yang tidak sepadan.
BalasHapusDalam pengembangan model e-learning perlu rancangan yang sesuai dengan tujuan pembelajaran yang diinginkan, khususnya dalam penggunaan internet. Menurut Haughey (Anwas, 2000) ada tiga kemungkinan dalam pengembangan sistem pembelajaran berbasis internet, yaitu web course, web centric course, dan web enhanced course. Web course adalah penggunaan internet untuk keperluan pendidikan, yang mana peserta didik dan pengajar sepenuhnya terpisah dan tidak diperlukan adanya tatap muka. Seluruh bahan ajar, diskusi, konsultasi, penugasan, latihan, ujian, dan kegiatan pembelajaran lainnya sepenuhnya disamapaikan melalui internet. Dengan kata lain model ini menggunakan sistem jarak jauh.
Web centric course adalah penggunaan internet yang memadukan antara belajar jarak jauh dan tatap muka (konvensional). Sebagian materi disampaikan melalui internet, dan sebagian lagi melalui tatap muka. Dalam model ini pengajar bisa memberikan petunjuk pada siswa untuk mempelajari materi pelajaran melalui web yang telah dibuatnya. Siswa juga diberi arahan untuk mencari sumber lain dari situs-situs yang relevan. Dalam tatap muka, peserta didik dan pengajar lebih banyak diskusi tentang temuan materi yang telah dipelajari melalui internet.
Sedang model ketiga, web enhanced course adalah pemanfaatan internet untuk menunjang peningkatan peningkatan kualitas pembelajaran yang dilakukan di kelas. Fungsi internet adalah untuk memberikan pengayaan dan komunikasi antara peserta didik dengan pengajar, sesama peserta didik, anggota kelompok, atau peserta didik dengan nara sumber lain. Peran pengajar dalam model ini dituntut untuk menguasahi teknik mencari informasi di internet, membimbing siswa mencari dan menemukan situs-situs yang relevan dengan bahan pembelajaran, menyajikan materi melalui web yang menarik dan diminati, melayani bimbingan dan komunikasi melalui internet, dan kecakapan lain yang diperlukan.
Semoga membantu.
Jawaban untuk permasalahan no 1
BalasHapusPenyelenggaraan e-Learning sangat ditentukan antara lain oleh: (a) sikap positif peserta didik (motivasi yang tinggi untuk belajar mandiri), (b) sikap positif tenaga kependidikan terhadap teknologi komputer dan internet, (c) ketersediaan fasilitas komputer dan akses ke internet, (d) adanya dukungan layanan belajar, dan (e) biaya akses ke internet yang terjangkau untuk kepentingan pembelajaran/pendidikan.
Perkembangan di berbagai negara memperlihatkan bahwa jumlah pengguna internet terus meningkat; demikian juga halnya dengan jumlah peserta didik yang mengikuti e- Learning dan institusi penyelenggara e-Learning. Fungsi e-Learning dapat sebagai pelengkap atau tambahan, dan pada kondisi tertentu bahkan dapat menjadi alternatif lain dari pembelajaran konvensional. Peserta didik yang mengikuti kegiatan pembelajaran melalui program e-Learning memiliki pengakuan yang sama dengan peserta didik yang mengikuti kegiatan pembelajaran secara konvensional.
Peserta didik maupun dosen/guru/instruktur dapat memperoleh manfaat dari penyelenggaraan e-Learning. Beberapa di antara manfaat e-Learning adalah fleksibilitas kegiatan pembelajaran, baik dalam arti interaksi peserta didik dengan materi/bahan pembelajaran, maupun interaksi peserta didik dengan dosen/guru/ instruktur, serta interaksi antara sesama peserta didik untuk mendiskusikan materi pembelajaran.
Lembaga pendidikan konvensional (universitas, sekolah, lembaga-lembaga pelatihan, atau kursus-kursus yang bersifat kejuruan dan lanjutan) secara ekstensif telah menyelenggarakan perluasan kesempatan belajar bagi ‘target audience’ mereka melalui pemanfaatan teknologi komputer dan internet (Collier, 2002). Seiring dengan hal ini, peserta didik usia sekolah yang mengikuti kegiatan pembelajaran elektronik juga terus meningkat jumlahnya (Gibbon, 2002).
BalasHapusSelamat pagi, baiklah saya akan menjawab permasalahan anda no 2.
Jadi e-learning adalah model pembelajaran yang memanfaatkan berbagai perangkat elektronik sebagai sarana/media pembelajaran. Perangkat elektronik yang dimaksud mencakup perangkat hardware seperti komputer, video, tape, radio, televisi, handphone, maupun perangkat software seperti jaringan komputer dan/atau internet. materi e-learning tidak hanya didistribusikan secara on-line baik melalui jaringan lokal ataupun internet, tetapi juga didistribusikan secara off-line menggunakan media CD/DVD.
Yang dimaksudkan dengan model pengembangan e-learning adalah pola representasi yang akan digunakan untuk merancang e-learning sehingga dapat manfaatkan oleh user semaksimal mungkin.
Maka dari itu agar dapat menghomogenkan peserta didik dengan penggunaan e-learning ini, guru harus berusaha kreatif dalam menggunakan multimedia, agar siswa yang mempunyai daya fikir yang lemah bisa cepat tanggap, dan guru berusaha untuk memberikan yang terbaik bagi peserta didik nya.
Saya akan mencoba menjawab permasalahan saudari enda
BalasHapusMenurut saya setelah memggunakan pembelajaran e-learning, maka tetap harus melakukan pembelajaran tatap muka dikelas seperti biasa. Karena tidak semua siswa paham akan materi yang sulit-sulit seperti reaksi dan perhitungan jika belajar sendiri. Perlu juga penjelasan dari gurunya. Jika belajar disekopah dan belajar e-learning dirumah maka akan membuat siswa mempunyai waktu belajar yang lebih banyak dan bisa mengulang materi dengan baik, sehingga siswa akan lebih paham dan proses pembelajaran akan mudah tercapai dan membarikan hasil yang maksimal
Menurut saya kita tetap harus nelakukan tatap muka untuk melihat sejauh mana tingkat kemampyan peserta didik dan menguji nya secara langsung itu dapat mengefektifkan pembelajaran dengan menggunakan elearning
BalasHapusSaya akan mencoba menjawab permasalahan no 1. Menurut saya walaupun ada e learning kiya harus tetap melakukan tatap muka secara langsung, e learning ini membantu kita untuk tetap melakukan aktivitas belajar jika kita tidak bisa tatap muka secara langsung dihari yang bersangkutan bukan tidak sama sekali melakukan tatap muka, karena dikemudian harinya pembelajaran secara e learning ini akan tetap melakukan tatap muka langsung
BalasHapusSaya akan mencoba menjawab permasalahan no 1. Menurut saya walaupun ada e learning kiya harus tetap melakukan tatap muka secara langsung, e learning ini membantu kita untuk tetap melakukan aktivitas belajar jika kita tidak bisa tatap muka secara langsung dihari yang bersangkutan bukan tidak sama sekali melakukan tatap muka, karena dikemudian harinya pembelajaran secara e learning ini akan tetap melakukan tatap muka langsung
BalasHapusSaya akan mencoba menjawab permasalahan saudari enda
BalasHapusMenurut saya setelah memggunakan pembelajaran e-learning, maka tetap harus melakukan pembelajaran tatap muka dikelas seperti biasa. Karena tidak semua siswa paham akan materi yang sulit-sulit seperti reaksi dan perhitungan jika belajar sendiri. Perlu juga penjelasan dari gurunya. Jika belajar disekopah dan belajar e-learning dirumah maka akan membuat siswa mempunyai waktu belajar yang lebih banyak dan bisa mengulang materi dengan baik, sehingga siswa akan lebih paham dan proses pembelajaran akan mudah tercapai dan membarikan hasil yang maksimal
Baiklah saya akan menjawab permaslahaan nomer 1
BalasHapusmenurut anda apakah dengan adanya e-learning tersebut, kita tidak perlu lagi nantinya melakukan pembelajaran tatap muka dikelas ?..sangat perlu karna dengan tatap muka guru bisa memahami sekaligus tahu siswa yang paham dengan yang tidak.dan dengab pertemuan tatap muka menurut saya sangat membantu siswa yang tadinya belum mengerti akan bahasa" atau apapun itu menjadi lebih paham karna di jelaskan melalui pertemuan tatap muka
terima kasih, sangat bermanfaat
BalasHapusesuai dengan pengertian awam, e-learning yang dimaksudkan di sini adalah suatu pembelajaran yang menggunakan jaringan komputer (intranet/Internet) dengan dukungan teknologi Web sebagai media deliveri materi dan komunikasi. Sistem pembelajaran ini dapat digunakan sebagai pendukung kegiatan belajar mengajar tatap muka maupun digunakan sebagai bentuk pembelajaran mandiri. Secara garis besar, teknis pelaksanaan e-learning dapat dilakukan dengan dua cara, yakni:
BalasHapus(1) hanya menggunakan media Web biasa, dan
(2) menggunakan software khusus e-learning berbasis Web yang sering disebut dengan istilah learning management system (LMS).
Pada cara pertama, materi-materi pembelajaran disajikan pada sebuah situs Web. Siapapun dapat mengakses materi secara bebas atau dibatasi dengan password (seperti model langganan majalah/jurnal). Komunikasi bisanya dilakukan menggunakan e-mail atau forum diskusi khusus. Dalam hal ini biasanya tidak terdapat fasilitas portofolio, sehingga dosen tidak memiliki informasi siapa yang telah mengakses materi tertentu dan kapan akses dilakukan. Yang diperlukan untuk menggunakan pendekatan ini hanyalah sebuah server Web. Pada cara kedua, selain diperlukan server Web juga diperlukan sebuah software (LMS) yang berfungsi untuk mengelola e-learning.
baiklah saya ingin menaggapi permasalahan anda yang pertama. yakni e-learning terbagi atas tiga jenis yaitu :
BalasHapus1. full e-learning (tidak ada tatap muka secara langsung)
2. mixed e-learning (stengah pertemuan langsung dan setengahnya lagi online)
3. helper e-learning (hanya dijadikan sebagai alat bantu dalam belajar)
Baik saya akan menjawab permasalahan yang pertama. Menurut saya walaupun adanya e-learning guru tetap harus sekekali melakukan tatap muka agar dapat mengevaluasi perkembangan dari peserta didiknya. Karena apabila hanya menggunakan learning saja nanti bisa-bisa guru tidak mengenal bagaimana sifat dan karakter dari anak didiknya.
BalasHapusPembelajaran E-learning sangat membantu proses belajar mengajak zaman sekarang.
BalasHapusDimana setiap hal sudah serba online, dan mempermudah komunikasi pembelajaran antara murid dan guru.
terima kasih ya, materinya sangat bermanfaat sekali
BalasHapusterima kasih ya, materinya sangat bermanfaat sekali
BalasHapusTerimakasih sangat bermanfaat
BalasHapusTerimakasih sangat bermanfaat
BalasHapusPembelajaran tatap muka dikelas tetap perlu. Tapi karna adanya e-learning tatap muka tersebut tidak begitu sering.
BalasHapusKalau menurut saya proses belajar mengajar dengan pertemuan tatap muka itu perlu, karena guru bisa mengawasi siswa nya apakah dia paham atau belum terhadap materi yang diajarkan
BalasHapusterimah kasi atas info ya
BalasHapusskarang pengetahuan aku brtambah
Terimakasih materinya cukup membantu
BalasHapusSaya akan menanggapi permasalahan no 1 sebenarnya kita akan tetap melakukan pembelajaran tatap muka. Sebagai contoh dikampus saya E-learning sangat bermanfaat bagi kami karena didalam kampus kami telah membuat peraturan dan setiap pertemuan misalnya 14 kali pertemuan kita melakukan e-learning 3 kali. Jadi itu bisa sebagai pengganti disaat guru atau dosen tidak dapat hadir dan biasanya ketika elearning sudah disetujui sesuai dengan schedule matkulnya masing-masing mis senin grammar maka dihari senin itu kita tidak perlu belajar tatap muka kita akan elearning dari media kita dan akan mendiskusikan dan menjawab tugas atau pembahasan yang diberikan oleh guru atau dosen.
BalasHapusJadi setelah E-learning selesai sesuai yang dijanjikan hari senin esoknya kita akan belajar seperti biasa bertatap muka dan bisa juga lebih dibahas lagi tentang E-learning grammarnya misalkan lebih mendalam dan kurang memuaskan seperti itu.
BalasHapusPerkembangan di berbagai negara memperlihatkan bahwa jumlah pengguna internet terus meningkat; demikian juga halnya dengan jumlah peserta didik yang mengikuti e- Learning dan institusi penyelenggara e-Learning. Fungsi e-Learning dapat sebagai pelengkap atau tambahan, dan pada kondisi tertentu bahkan dapat menjadi alternatif lain dari pembelajaran konvensional. Peserta didik yang mengikuti kegiatan pembelajaran melalui program e-Learning memiliki pengakuan yang sama dengan peserta didik yang mengikuti kegiatan pembelajaran secara konvensional.
BalasHapussaya akan menjawab permasalahan yang pertama. Menurut saya walaupun adanya e-learning guru tetap harus sekekali melakukan tatap muka agar dapat mengevaluasi perkembangan dari peserta didiknya. Karena apabila hanya menggunakan learning saja nanti bisa-bisa guru tidak mengenal bagaimana sifat dan karakter dari anak didiknya.
BalasHapus